Rabu, 25 Mei 2011

resensi kambing jantan

Kambing Jantan: The Movie. Sebuah Film Pelajar Bodoh.
Seperti pada review-review film saya sebelumnya, setiap saya nonton film pasti punya alasan tertentu kenapa saya ingin nonton film tersebut walaupun pada akhirnya saya menyarankan tidak usah nonton film tersebut.

Tapi bagaimana dengan film Kambing Jantan yang diangkat dari blog dan buku yang laris manis tersebut? mungkin anda sudah tahu dan sudah bisa mengira-ngira apa alasan saya nonton film ini? Ya, karena tentunya film ini adalah film yang diangkat dari sebuah blog dan buku dari blogger terkenal Raditya Dika. Ya, karena saya telah memproklamasikan bahwa saya adalah blogger, saya akan mendukung aksi dari blogger-blogger Indonesia. Tapi, hal ini tidak akan mengurangi penilaian dari aksi mereka. Contohnya film ini, kalau memang saya tidak suka, saya akan katakan tidak suka, begitu juga dengan penilain baik buruknya menurut saya pribadi.

Jalan ceritanya langsung saya kutip dari webnya langsung saja ya...
Selepas SMU, Dika (Raditya Dika), yang juga dipanggil Kambing, harus melanjutkan pendidikan di Adelaide, Australia, mengambil major finance yang tidak sesuai minatnya. Maka dimulailah perjalanan Dika mencari jati diri: apa yang ingin dia lakukan dalam hidupnya sebenarnya?

Ketika dia menjalani kuliah di Australia, problem muncul dengan Kebo (Herfiza Novianti), pacarnya, karena harus menjalani Long Distance Relationship (LDR) yang menyebabkan pengeluaran keuangan sangat besar, komunikasi yang terganggu, dan kehidupan kuliah yang semakin lama membuat mereka berbeda.

Problem lainnya seperti bagaimana Dika mengalami kesulitan dalam belajar, dan kemunculan Sally Dickson, dosen bule yang lebih mirip tentara wanita, menambah dilema si Kambing dalam menyelesaikan masalah LDR dan finance (dalam dua arti sebenarnya: kebutuhan finance-nya dan sekolah finance-nya).

Pertemuannya dengan seorang teman SD, Ine (Sarah Shaftiri), yang membaca blog Dika berjudul “Kambingjantan”, membuka pikirannya bahwa dia bisa saja jadi penulis komedi. Sedangkan, persahabatannya dengan Harianto (Edric Tjanra), anak Kediri yang juga LDR dengan pacarnya, menambah keyakinan Dika untuk terus menentukan: hidup seperti apa yang dia mau?

Karakter-karakter pendukung lainnya, seperti Mama Dika, adalah cerminan ibu yang berharap banyak pada anak sulungnya, “mama jaman sekarang” yang merasa sangat mengenal anaknya ternyata harus mengakui bahwa anaknya memiliki “kelebihan” lain. Papa Dika dan Adik-Adik Dika menjadi karakter-karakter yang memperkaya unsur komedi cerdas yang ada dalam film ini.

Komentar saya...

Dari ide cerita, menurut saya tidak terlalu istimewa. Tapi mungkin kalo di blog atau bukunya terkesan istimewa mungkin karena bagaimana cara Radit menceritakan catatan hariannya jadi menarik dan lucu hingga membuat orang jadi gila karena tertawa sendirian. Tapi untuk di filmnya yang telah saya tonton ini saya merasa belum bisa melihat perbedaan yang jauh dengan film komedi Indonesia. Maksud saya saya belum melihat sesuatu yang beda. Walaupun sebenarnya sih jauh lebih bagus dari film komedi dewasa dan kamedi horor yang banyak menjamur di bioskop saat ini. Mungkin memang tidak mudah ya untuk membawa cerita yang sukses dalam sebuah novel menjadi sebuah film.

Persamaan yang mencolok yang saya lihat adalah kebiasaan dalam film komedi yang harus selalu menampilkan sesuatu yang jorok. Contohnya di adegan opening yang menampilkan papanya Radit yang merogok isi celananya gara-gara lupa ganti celana dalam. Atau juga di adegan dimana Radit (kalau tidak salah) mengusap mukanya dengan celana dalam papanya. Atau juga di adegan di mana tokoh Edgar, adiknya Radit yang selalu buang air besar di celana setiap kali diajak rapat keluarga. Dan juga sebuah adegan yang menggambarkan Radit ngetik di laptopnya sambil nongkrong di WC.

Mungkinkah ini dikarenakan Rudi Soedjarwo belum jago membuat film komedi? ya.. kalau dibandingkan film garapannya terdahulu, Ada Apa Dengan Cinta? film ini sungguh masih jauh.

Di luar itu semua, patut diacungi jempol untuk keputusan Rudi Soedjarwo yang telah memutuskan untuk memilih Radit sendiri sebagai pemeran utamanya sebagai Raditya Dika yang kelihatan bloon tersebut. Karena menurut saya Radit sangat memiliki tampang bloon dan oon. Dan menurut saya walaupun tidak melawak pun Radit sudah kelihatan lucu karena tampangnya yang sudah lucu tersebut. Apalagi ditambah dengan akting Radit yang bagus, jadi jangan kaget kalau nantinya Radit malah terkenal jadi aktor.

Dengan akting radit yang sangat natural, setiap adegan-adegan yang dilakoninya jadi kelihatan lucu dan menghibur. Walaupun lama-kelamaan saya kok melihat seperti Mr. Bin.

Selain itu yang saya suka dari film Kambing Jantan ini adalah pemilihan sound effect atau apa itu ya namanya ya? pokoknya pemilihan efek suaranya di setiap adegan-adegannya. Seperti pada adegan di mana Radit menjatuhkan ikannya yang masuk kedalam got, saya melihat pas. Jadi menurut saya, sound effectnya pas dengan adegan visualnya. Seperti pada saat sang tokoh sedang senang atau sedih.

Hasil akhir dari penilaian saya untuk film ini. Filmnya lucu dan menghibur. Untuk yang anda butuh hiburan yang lumayan, film ini bisa jadi jawaban yang lumayan juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar